Sang Penuntut Ilmu

Oleh : Hammad Haydar Alhaqi Kelas IX Sains

Suatu Hari, aku berdiri di hadapan banyak orang bak anggota Timnas yang baru saja menjuarai Piala Dunia. Aku adalah seorang anak yang berhasil meraih peringkat 10 besar nilai seleksi ke Mesir terbaik di provinsiku, Sumatera Utara.

Lalu, setelah beberapa waktu berlalu, aku mulai merencanakan langkah selanjutnya. Aku merasa jejak langkahku di bidang keagamaan sudah cukup, sehingga aku berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu SMP ternama di Bukittinggi bersama teman-temanku.

Namun, tanpa sengaja, aku mendengar percakapan kedua orang tuaku. Ibuku sangat berharap ada sosok pemuka agama Islam yang lahir dari keluarga kami, mengingat garis keturunan dari kakekku merupakan tokoh yang sangat disegani dalam keilmuan agama. Aku pun kemudian diajak berbicara empat mata, di mana orang tuaku terus mendesak keinginan tersebut.

Tetapi, terjadi perbedaan keinginan antara kami: aku bercita-cita menjadi sosok seperti B.J. Habibie, sedangkan ibuku ingin aku menjadi seperti Buya Hamka—yang secara kebetulan juga merupakan sosok dari daerah asal kami. Perdebatan tersebut berlangsung ulet dan tidak membuahkan titik terang, hingga akhirnya aku memilih mengurung diri di dalam kamar. Di tengah kebuntuan itu, datanglah sebuah surat dari pamanku yang sedang berkuliah di Mesir. Beliau memberikan rekomendasi sebuah pondok pesantren di Pulau Jawa.

Hingga akhirnya, dalam suratnya, paman menjelaskan bahwa pondok pesantren tersebut sangat fokus memperdalam bahasa asing, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Selain itu, banyak alumni dari pesantren tersebut yang menjadi tokoh terkenal dan berpengaruh di kancah internasional.

Aku pun mencoba memikirkannya secara matang. Hingga pada suatu hari, aku mengambil keputusan berani untuk menerima saran tersebut. Aku langsung menyampaikan keputusanku kepada kedua orang tuaku. Lantas mereka terkejut, namun tetap menyetujui dan mendukung pilihanku.

Meskipun demikian, sejujurnya aku masih menyimpan keraguan karena keputusan ini kuambil dengan setengah hati. Hari pemberangkatan untuk mengikuti ujian seleksi masuk pun tiba, dan aku hanya diantar oleh ayahku. Ini menjadi momen pertama kalinya aku melangkah keluar dan menginjakkan kaki di luar tanah Melayu.

Pada akhirnya, aku mengikuti seluruh rangkaian tes seleksi masuk tersebut. Rasa syukur begitu penuh ketika aku dinyatakan lulus, dan dari sinilah lembaran baru perjalananku sebagai penuntut ilmu resmi dimulai.

*) Cerpen motivasi, persahabatan, humor, hingga refleksi kehidupan karya para Santri SMP Al Furqan MQ ini, merupakan hasil praktik workshop penulisan bersama Alfian Bahri yang selalu tayang berkala tiap minggunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Sekolah Lainnya

Pengumuman

Siap Melaju ke Ajang Sains Nasional
Siap Berkompetisi di OMI IPS 2026

Prestasi

Juara 2 Olimpiade Madr...
Terbaik 4 Sing A Long

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman